Seruan Revolusi Santri

Para santri harus diberi peluang untuk membuat revolusinya sendiri. Sebuah revolusi wacana. Revolusi pemikiran. Lahap semua buku, diskusi dan menulislah. Sekali lagi bikin revolusi.

(Dwy Sadoellah dalam buku Ah, Santri)

Rahasia Menghafal al-Qur’an dengan Mudah

on 25 Januari 2012

   Oleh: Syamsu-l Arifyn Munawwir

 Rasulullah saw menganjurkan agar umat Islam menghafal al-Qur’an. Dalam banyak Hadis, beliau menyebutkan keutamaan orang yang menghafal al-Qur’an. Dan berkah menghafal al-Qur’an akan diperoleh di dunia dan akhirat. Selain itu, dengan menghafal al-Qur’an, ilmu-ilmu lain juga akan mudah dipelajari dan dihafalkan. Lalu bagaimana cara menghafal al-Qur’an dengan mudah? Berikut beberapa rahasianya.
          1.   Mengingat keutamaan menghafal al-Qur’an.
     Seperti ungkapan, “Tak kenal maka tak sayang,” seseorang perlu mengetahui dan mengingat keutamaan menghafal al-Qur’an, agar ia memiliki keinginan kuat untuk menghafalnya. Banyak dalil tentang keutamaan menghafal al-Qur’an. Di antaranya, orang yang hafal al-Qur’an tak akan merugi dalam berdagang dan rejekinya ditambah (QS Faathir [35]: 29-30), menjadi keluarga Allah dan pilihannya (HR Ahmad), derajatnya naik sesuai akhir ayat yang dibaca (dihafal) (HR Abu Dawud dan Tirmidzi), lebih berhak menjadi imam salat (HR Muslim), dipilih menjadi pemimpin delegasi (HR Tirmidzi dan an-Nasa’i), mengagungkannya termasuk dari mengagungkan Allah (HR Abu Dawud), dikumpulkan bersama malaikat di hari Kiamat (HR Bukhari Muslim), kedua orangtuanya memakai mahkota cahaya di hari Kiamat (HR Hakim), dll.
          2.   Yakin bahwa menghafal al-Qur’an itu mudah.
        Ir. Amjad Qosim dalam bukunya Kaifa Tahfazh al-Qur’an al-Karim fi Syahr (Hafal Al-Qur’an dalam Sebulan) menjelaskan bahwa menghafal al-Qur’an itu mudah. Dalam buku itu juga disampaikan fakta tentang tiga wanita sibuk yang ternyata bisa menghafal al-Qur’an dalam waktu kurang dari satu bulan. Salah satu rahasianya adalah yakin bahwa menghafal al-Qur’an itu mudah. Dan demikianlah jaminan dari Allah swt. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Qur’an itu untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qamar [54]: 22).
          3.  Memakai mushaf al-Qur’an yang sama.
    Otak manusia memiliki kemampuan untuk men-snapshot buku yang dibaca dan mengingatnya secara visual. Otak dapat mengingat posisi suatu tulisan/ayat di sebuah halaman, apakah di bagian atas, tengah atau bawah. Karena itu, bagi penghafal al-Qur’an dianjurkan mengunakan satu mushaf yang sama selama menghafal. Agar ia lebih mudah untuk menghafal dan mengingat ayat. Bila memakai mushaf yang berbeda-beda, otak akan kesulitan untuk menghafal dan mengingat hafalan.
          4.  Membaca dan mendengarkan ayat yang akan dihafalkan.
    Seseorang akan mudah hafal sebuah lagu atau ungkapan iklan di televisi tanpa menghafalnya, hanya karena sering mendengarnya. Demikian pula dalam menghafal al-Qur’an, seseorang akan lebih mudah menghafal, apabila sebelumnya telah sering membaca atau mendengar ayat yang akan dihafal. Karena itu, sebelum menghafal, sebaiknya membaca dan mendengarkan berulang-ulang ayat-ayat yang akan dihafal. Bisa juga dengan mendengarkan rekamannya. 
          5.  Memahami makna ayat yang dihafalkan.
         Sebelum menghafal, alangkah baiknya dipahami dahulu makna dan jalan cerita ayat yang akan dihafal. Bila perlu juga membaca terjemah dan tafsirnya. Dengan demikian, dapat diketahui maksud ayat dan hubungannya dengan ayat sebelum dan setelahnya. Hal ini terbukti dapat mempermudah dalam menghafal al-Qur’an. 
          6.  Menghafal pada waktu-waktu berkah, tenang dan pikiran fresh.
         Ada saat-saat mudah untuk menghafal dan ada pula saat-saat sulit untuk menghafal. Saat yang mudah untuk menghafal di antaranya pada waktu-waktu berkah, seperti waktu sahur, i’tikaf di masjid, atau puasa. Selain itu, juga pada waktu-waktu yang tenang dan pikiran fresh, seperti pada pagi hari, setelah bangun tidur, dan waktu santai tanpa tekanan dan gangguan. 
        7.  Mengulang hafalan di hadapan guru dan teman, dalam salat dan sebelum tidur.
     Yang disebut hafal adalah mampu membaca dengan benar dan lancar. Hal ini akan diperoleh dengan cara banyak mengulang hafalan (takrar/muraja’ah). Dan hafalan akan mudah hilang bila tidak diulang-ulang. Karena itu, seyogyanya mengulang hafalan di hadapan guru dan teman. Dengan demikian, kesalahan dalam menghafal akan dapat dihindari. Bila hanya bersandar pada diri sendiri, akan banyak kesalahan tanpa disadari. Selain itu, juga dianjurkan mengulang hafalan pada waktu salat—baik salat wajib maupun sunah—dan sebelum tidur. 
          8.  Selalu menjaga semangat untuk hafal al-Qur’an. 
      Setiap usaha untuk meraih kesuksesan tak lepas dari ujian. Demikian pula usaha menghafal al-Qur’an. Terkadang muncul rasa malas dan semangat berkurang, sehingga hafalan tak kunjung selesai. Maka, agar sukses menghafal al-Qur’an, semangat harus senantiasa dijaga. Caranya dengan membaca dan mendengarkan motivasi untuk menghafal al-Qur’an, berkumpul dengan orang-orang yang senang membaca dan menghafal al-Qur’an, banyak membaca al-Qur’an, selalu membawa al-Qur’an, dll. 
          9.  Menjauhi dosa dan maksiat.
      Dosa dan maksiat adalah penghalang utama dari mendapatkan ilmu dan menghafal. Adh-Dhahhak berkata, “Kami tidak mengetahui seorang pun yang menghafal al-Qur’an kemudian lupa kecuali karena dosa.” Dan Imam asy-Syafii—ulama yang sangat cerdas dan kuat hafalannya—pernah berkonsultasi pada gurunya tentang buruknya hafalan. Lalu ia dianjurkan menghindari dosa dan maksiat. Hal ini diceritakan dalam syairnya:
Aku mengeluh pada Syekh Waki’ tentang buruknya hafalanku
Maka ia menasehatiku untuk meninggalkan maksiat
Sesungguhnya ilmu adalah cahaya dari Allah
Dan cahaya Allah tak diberikan pada ahli maksiat
         10.   Berdoa dan meminta didoakan.  
        “Ora et labora,” berdoa dan berusaha, demikian dalam pepatah Latin. Untuk mencapai kesuksesan, selain dibutuhkan usaha keras, juga dibutuhkan doa agar usaha dimudahkan oleh Allah swt. Begitu juga dalam menghafal al-Qur’an. []

          Sumber: Buletin SIDOGIRI, 1432 H.

KH. Nawawi Sidogiri: Syiah itu Sesat dan Menyesatkan

on 26 Desember 2011




Hadratussyekh KH. A. Nawawi Abd. Djalil,


Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan Jawa Timur:





SYIAH ITU SESAT DAN MENYESATKAN


Penyebaran aliran Syiah di Indonesia lumayan cepat. Pengikut Syiah diperkirakan sudah mencapai tiga juta orang. Padahal Syiah merupakan aliran yang bertentangan dengan Ahlussunnah tidak hanya dalam persoalan syariat, tapi juga akidah. Berikut wawancara Ahmad Dairobi dari Buletin Sidogiri dengan Hadratussyekh KH. A. Nawawi Abd. Djalil, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri.

Baru-baru ini, konflik Sunni-Syiah sempat mencuat di Jawa Timur, terutama di Pasuruan dan Bondowoso. Sebetulnya di mana letak sesungguhnya perbedaan Sunni-Syiah itu?
Syiah itu adalah aliran yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah, bahkan Syiah itu lebih jauh daripada Wahabi. Perbedaan dengan Muhammadiyah  kan hanya sekedar hukum-hukum syar’i, seperti tahlil dan lain sebagainya. Tapi kalau perbedaan syiah ini sangat tajam. Hadits yang dibuat pegangan oleh Ahlussunnah tidak mereka pakai. Mereka punya Hadits sendiri. Orang Syiah tidak mau kepada Hadits-hadits dalam Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Abi Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban. Dan, al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut mereka masih kurang. Al-Qur’an kata mereka lebih banyak dari itu.
Jadi, soal kitab dan rujukan saja antara Syiah dan Ahlussunnah sudah lain. Kalau Muhammadiyah atau Wahabi al-Qur’an-Haditsnya sama dengan kita. Hanya masalah pengelolaannya yang berbeda.

Secara akidah, Syiah apa tergolong ahli bid’ah atau tergolong kafir?
Kalau secara global, tidak kafir. Tapi, kalau secara perinci sepertinya sudah bukan Islam. Rasulullah menyatakan bahwa Islam itu terpecah menjadi 73 tiga golongan, dan hanya satu yang selamat. Lainnya di neraka. Yang selamat adalah golongan yang keyakinan dan kelakuannya mengikuti Rasulullah r dan para shahabat. Itulah Ahlussunnah.
Di antara golongan yang sangat tajam perbedaannya dengan Ahlussunnah adalah golongan Syiah. Mereka tidak mengakui al-Qur’an, tidak mengakui Hadits-hadits Rasulullah saw.

Jika dilihat bahwa mereka tidak mengakui keabsahan al-Qur’an yang dibaca Muslimin sekarang, apa secara fikih tidak murtad?
Kalau soal itu kan sudah maklum. Tapi, saya tidak berani menyatakan kafir begitu. Mereka masih umat Rasulullah Muhammad saw. Tapi, kalau dilihat secara tafshîl (detail dari berbagai paham mereka, red), sepertinya memang sudah di luar Islam.

Pada tahun 1984, Majelis Ulama Indonesia (MUI) hanya mengingatkan agar umat Islam waspada dan berhati-hati terhadap Syiah. Tidak menfatwakan bahwa Syiah itu sesat. Sebetulnya bagaimana langkah MUI ini?
Ya maksudnya jangan sampai ikut Syiah. Kita harus berhati-hati. Itu suatu peringatan jangan sampai ikut-ikut Syiah. Tapi, Syiah itu sebetulnya juga macam-macam. Syiah yang paling dekat (mirip) dengan Ahlussunnah adalah Syiah Zaidiyah. Al-Qur’annya sama, Haditsnya juga sama. Lah, Syiah yang masuk ke Indonesia adalah Syiah Iran, yaitu Syiah Itsna Asyariah.
Syiah Itsna Asyariah ini menyatakan bahwa setelah wafatnya Rasulullah semua shahabat murtad, kecuali beberapa orang, seperti Sayyidina Ali, Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad bin al-Aswad, dan Salman al-Farisi. Sedangkan shahabat-shahabat andalan Rasulullah seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Abu Hurairah, menurut Syiah Itsna Asyariyah, mereka murtad semua.
Orang Syiah biasa mengucapkan laknatullah alaihi kepada para shahabat. Bahkan, ada orang Syiah yang menyebut Siti Aisyah sebagai sundel (pelacur). Kalau sampai seperti itu mereka kurang ajar terhadap para Shahabat. Padahal dalam Hadits, jelas-jelas Rasulullah saw sangat melarang sabb as-Shahâbah (memaki Shahabat).

Jadi, dari segi kegemaran mereka memaki para Shahabat, Syiah sudah sesat?
Ya, sangat sesat. Menurut saya mereka itu dhâllun mudhillun (sesat dan menyesatkan).

Lalu, bagaimana sikap kita mengahadapi Syiah ini. Apa harus diberantas?
Kalau bisa ya harus diberantas. Tapi, jangan sampai merusak. Ya ada ukurannya. Ada beberapa Habaib yang menyatakan bahwa orang-orang Syiah itu halla dzabhuhum (halal dibunuh). Kalau Sidogiri nggak. Sidogiri ikut cara Walisongo (yang tidak menggunakan kekerasan). Cara para sunan itu terbukti banyak hasilnya dalam menyebarkan Islam. Mereka tidak menggunakan kekerasan.

Salah satu pernyataan yang sering dikutip oleh orang Syiah adalah dawuh Imam Syafii: “Kalau mencintai Ahlul Bait itu dianggap Rafidhi (Syiah), maka biarlah manusia dan jin menyaksikan bahwa aku adalah orang Rafidhi”. Bagaimana menurut Kiai?
Dawuh Imam Syafii itu disalahgunakan oleh mereka. Kecintaan Imam Syafii terhadap Ahlul Bait beda jauh dengan cinta Ahlul Baitnya orang-orang Syiah. Orang Syiah itu Hubbu (cinta) Ahlul Bait tapi Bughdu Ashhâhbi Rasûlillâh (membenci Shahabat-Shahabat Rasulullah saw). Sedangkan Imam Syafii mencintai Ahlul Bait dan juga mencintai para Shahabat.
Hadits-hadits Rasulullah saw yang menyuruh kita untuk meneladani Shahabat serta tidak membenci atau memaki mereka, oleh orang Syiah tidak dipakai. Sebab, kitab Hadits yang mereka pakai adalah al-Kâfi. Padahal al-Kâfi itu bukan sabda Rasulullah, tapi dawuh dari imam-imamnya orang Syiah. Itupun banyak pemalsuan.

Para imam-imam Syiah, seperti Sayyidina Hasan, Husain dan Ali Zainal Abidin,  juga sangat dihormati oleh Ahlussunnah. Apa memang benar imam-imam itu menyebarkan ajaran Syiah?
Nggak... mereka itu hanya diaku-aku menyebarkan paham Syiah. Banyak pemalsuan-pemalsuan terhadap mereka. Mereka tidak bilang begitu, tapi oleh riwayat Syiah dinyatakan bilang begitu.

Jumlah Syiah di Indonesia sekitar 1 sampa 3 juta, bagaimana cara yang baik untuk memberantas paham mereka ini  menurut Kiai?
Ya didatangi ke rumahnya. Dengan cara berdialog. Tidak usah dibikin ramai-ramai. Soalnya kalau ramai-ramai nggak ada yang hasil.

Ada yang menyatakan bahwa shalat bagi orang Syiah adalah tiga waktu bukan lima waktu. Bagaimana sebetulnya hal ini?
Iya, menurut mereka waktu shalat itu adalah pagi yaitu subuh; kemudian siang yaitu shalat dzuhur dan ashar; dan malam, yaitu shalat maghrib dan isya’. Jadi, menurut mereka shalat dzuhur bisa dikumpulkan dengan ashar, shalat maghrib bisa dikumpulkan dengan isya, meskipun tidak dalam perjalanan. Jadi, hanya tiga waktu bukan lima waktu. Ajaran ini tidak sesuai dengan penjelasan Rasulullah saw terhadap perintah shalat di dalam al-Qur’an. Rasulullah saw jelas-jelas menyatakan shalat itu lima waktu.

Salah satu perbedaan tajam Ahlussunnah dengan Syiah adalah masalah nikah mut’ah. Syiah menyatakan nikah mut’ah itu halal. Sedangkan Ahlussunnah menyatakan haram. Kenapa demikian?
Memang, nikah mut’ah itu pernah dihalalkan. Tapi, itu jelas-jelas sudah dinasakh.

Apakah Kiai  setuju jika MUI mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat, seperti fatwa MUI untuk Ahmadiyah?
Syiah dan Ahmadiyah kan sama-sama sesat. Cuma, Ahmadiyah lebih parah lagi. Sampai menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu sebagai nabi. Syiah tidak sampai seperti itu. Tapi, di Syiah pun sebetulnya ada kelompok yang menyatakan bahwa malaikat Jibril salah memberi wahyu kepada Nabi Muhammad saw. Kata mereka, sebetulnya Allah menyuruh menurunkan wahyu  kepada Sayyidina Ali. Cuma malaikat Jibril salah.
Kelompok Syiah yang semacam ini jelas kafir. Sebab, seperti dikatakan oleh Sayyid Muhammad al-Maliki, orang yang meyakini bahwa Allah adalah Tuhan Yang Mahaesa, tapi ia tidak mengakui kerasulan Nabi Muhammad saw, orang ini belum Islam. Soalnya rukunnya iman itu kan iman kepada Allah, para rasul, kitab suci, malaikat, hari akhir dan qadha-qadar.
Namun demikian, Syiah secara umum nggak seperti itu.

Beberapa orang  Syiah di Indonesia membantah bahwa Syiah membenci Shahabat, shalat tiga waktu dan al-Qur’annya berbeda?
Itu bagian dari taqiyyah (menyembunyikan keyakinannya jika kondisinya tidak memungkinkan). Memang, para ’kiainya’ Syiah menyuruh pengikutnya untuk taqiyyah pada saat kelompok mereka masih kecil. Mereka menyuruh agar ajaran Syiah yang bertentangan dengan Ahlussunnah jangan sampai dibuka di hadapan orang lain. []

Sumber: Buletin SIDOGIRI, edisi 19/Tahun II/Jum. Tsaniyah 1428


Catatan: Wawancara Buletin SIDOGIRI dengan ulama besar ahli akidah ini telah menginspirasi para ulama dan habaib, sejak beberapa tahun lalu, untuk lebih tegas menjaga dan membentengi umat dari bahaya aliran Syiah. Dan Buletin SIDOGIRI edisi 19 dengan topik utama tentang Syiah ini laris manis tanpa sisa, bahkan sampai kini masih banyak dicari.

Ya Rasul

on 09 Oktober 2011




Ya Rasul
Kami umatmu tapi jarang mengingatmu

Kami mengaku mencintaimu
Tapi jarang bershalawat padamu

Kami mengagumi cintamu pada kami
Tapi kami tak kunjung mencintaimu

Kami mendengar dan membaca Hadismu
Tapi kami tak ingat betul padamu

Kami membaca Qur’an yang diturunkan padamu
Tapi kami sering lupa
dari engkaulah Qur’an ini sampai pada kami

Kami saling mengklaim paling mencintaimu
Tapi kadang masih berdebat tentang boleh-tidaknya
merayakan hari kelahiranmu

Kami kagum pada akhlakmu yang mulia
Tapi akhlak kami tak jua menirumu

Kami salut dengan dakwahmu yang halus
Tapi kami beramar makruf nahi mungkar dengan kasar

Kami membaca shalawat untukmu
Tapi kami membacanya dengan bergurau
Dan sibuk memilih lagunya yang merdu

Kami kasihan engkau tumbuh sebagai yatim piatu
Tapi kami tak kasihan pada anak yatim yang kami kenal

Kami memakai namamu di awal nama kami
Tapi kami tak peduli mengapa namamu ada di situ

Kami menyimpan foto pakaianmu yang sederhana
Tapi pakaian kami mahal dan bermacam modelnya

Kami tahu engkau menyuruh mencari ilmu
Tapi kami masih mencari ijazah, bukan mencari ilmu

Kami tahu engkau menyuruh menghormati ulama
Tapi kami masih suka mengkritik buta para ulama

Kami membayangkan seandainya bisa melihat wajahmu
Tapi kami tak ingin berziarah ke makammu

Kami mengaku mengagumi dan memperhatikanmu
Tapi kami kurang peduli dengan Keluargamu

Kami berharap seandainya bisa menjadi Sahabatmu
Tapi kami kurang menghormati Sahabatmu

Kami bangga sejarawan Barat menyebutmu
Tokoh paling berpengaruh di antara 100 tokoh dunia
Tapi kami mengidolakan selebritis dan atlet olahraga

Kami terharu mengenang perjuangan dakwahmu
Kami marah mengingat gangguan kaummu
Tapi kami tak membantu para pendakwah sepertimu

Kami dengar engkau menyebut kami sebelum wafat
Saat orang tak ingat kecuali pada yang paling dicintainya
Tapi kami tak pernah teringat padamu saat kami sakit

Kami ingin bermimpi bertemu denganmu
Tapi kami tak berusaha memantaskan diri untuk itu

Kami menulis dan membaca puisi tentangmu seperti ini
Tapi beberapa menit lagi kami sudah tak ingat lagi

Ya Rasul
Maafkan kami…
Maafkan kami…

Semoga kegembiraan kami merayakan kelahiranmu
Dapat menebus kekurangan kami dalam mencintaimu


Sumber: Buletin SIDOGIRI, edisi 27/Tahun III/Rabiul Awal 1429 

Memahami “Sidogiri Saiki Sidogiri Biyen”

on 19 September 2011

Memahami “Sidogiri Saiki Sidogiri Biyen”
Catatan Editor "Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri jilid 2"



Aku nggak wani, iku olehe Mak Alil, iku warisane Mak Alil. Nggak enak aku. (Saya tidak berani, itu inisiatif Mak Alil [KH Cholil Nawawie], itu warisan Mak Alil. Saya merasa tidak enak untuk mengubahnya).


Itulah yang sering diucapkan oleh KH Abd. Alim Abd. Djalil dalam mengambil keputusan berkaitan dengan Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Meski menjadi Pengasuh PP Sidogiri, ternyata Kiai Lim—panggilan akrab beliau—tak pernah merasa dirinya yang memiliki pesantren. Menurut beliau, dirinya hanya melanjutkan peninggalan para pendahulunya yang harus dijaga dengan baik.


***


Menurut Prof Dr Zamakhsyari Dhofier (1984), pesantren salaf adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan. Sedangkan pesantren khalaf (modern) adalah lembaga pesantren yang memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam madrasah-madrasah yang dikembangkannya, atau membuka tipe sekolah-sekolah umum dalam lingkungannya. Seperti SMP, SMU, dan bahkan perguruan tinggi.


Bagaimana Sidogiri? Sejak didirikan oleh Sayid Sulaiman—cicit Sunan Gunung Jati—pada tahun 1158 H atau 1745 M, dari zaman ke zaman Sidogiri terus berkembang dan maju, tetapi tak ada perubahan besar yang mengubah kesalafan pesantren ini.


Memang gedung megah telah banyak berdiri, komputer dan alat elektronik lainnya telah banyak digunakan, manajemen kepengurusannya telah begitu modern, seminar dan diklat telah diadakan setiap tahun, dan dakwah dengan berbagai media dan lembaga telah dilakukan, tetapi itu semua hanyalah sarana untuk menjaga dan mengembangkan cita-cita para kiai pendahulu.


Hal-hal prinsip yang mendasar tetap tak berubah di pesantren yang memiliki ratusan madrasah filial di seantero Jawa Timur ini. Pengajaran kitab-kitab klasik tetap dijadikan sebagai inti pendidikan. Ajaran dan tradisi salaf tetap dijaga dan dipelihara dengan baik.


Ajaran Ahlusunah wal Jamaah dalam bidang akidah, syariah, dan akhlak, yang telah diajarkan oleh para kiai pendahulu sejak 272 tahun lalu, terus diajarkan pada santri dan umat dari masa ke masa. Dan tradisi baik yang telah diamalkan dan diajarkan oleh Walisongo dan para kiai pendahulu, terus diamalkan oleh para kiai, santri, dan umat Sidogiri.


Itulah Sidogiri: ajaran dan tradisinya salaf, tetapi manajemen dan fasilitasnya modern. Hal ini karena Sidogiri berpedoman dengan kaidah para kiai NU, “al-Muhafazhah bil-qadim ash-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah,” mempertahankan hal-hal lama yang baik dan melengkapi dengan hal-hal baru yang lebih baik. 


Dan berpedoman dengan ucapan Sayidina Ali bin Abi Tholib, “Haqqun bighairi nizham yaghlibuhu bathil binizham,” kebenaran yang tidak tertata akan dikalahkan oleh kebatilan yang tertata.


Maka, di Sidogiri kita bisa melihat adanya Pengasuh, Majelis Keluarga, dan Pengurus yang menangani santri. Kita juga bisa melihat AD/ART pesantren, tata kerja pengurus-pengurus, dan berbagai tata tertib. Kita bisa melihat pengajian kitab Ihya’ Ulumiddin, Shahih Bukhari, Fathul Wahhab, dll, sekaligus melihat berbagai seminar dan diklat dalam berbagai tema. Dan kita bisa melihat ribuan santri tetap bersarung, tetapi pandai manajemen dan piawai menggunakan peralatan elektronik masa kini.


Namun itu semua tak lepas dari kesadaran akan adanya suatu mata rantai keilmuan dan pengabdian dari para kiai pendahulu. Karena itulah Kiai Lim dan kiai-kiai lainnya tetap menjaga hal-hal lama yang baik yang telah diwariskan oleh para kiai pendahulu.


Di sinilah dapat dipahami ungkapan Katib Majelis Keluarga, Mas d. Nawawy Sadoellah, “Sidogiri saiki Sidogiri biyen.” Sidogiri sekarang Sidogiri dahulu.


***


Dalam buku Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri edisi kedua ini, dapat ditelusuri jejak langkah yang telah ditorehkan oleh 9 kiai Sidogiri. Yakni (1) KH Aminullah, penerus perjuangan Sayid Sulaiman; (2) KH Mahalli, guru empat Pengasuh Sidogiri; (3) KH Abu Dzarrin, santri yang menjadi Pengasuh Sidogiri; (4) KH Noerhasan bin Noerkhotim, kiai khumul berdarah Madura; (5) KH Bahar bin Noerhasan, Kiai Alit berilmu laduni; (6) KH Abd. Alim Abd. Djalil, kiai pendiam penjaga tradisi salaf; (7) KH Kholili bin Hasbullah, figur dai yang pantang menyerah; (8) KH Ghozi Noerhasan, Abul Yatama yang dermawan dan bersahaja; dan (9) KH Nawawi Thoyyib, pemimpin tegas berdarah Kramat-Sidogiri.


Kiai Aminullah, Kiai Mahalli, Kiai Dzarrin, Kiai Noerhasan, Kiai Bahar, dan Kiai Lim adalah Pengasuh PP Sidogiri. Sedang Kiai Kholili, Kiai Ghozi, dan Kiai Nawawi Thoyyib adalah Ketua Umum PP Sidogiri.


Dalam riwayat hidup mereka, selain banyak ditemukan keteladanan, juga ditemukan hal-hal unik. Misalnya, Kiai Aminullah yang menurunkan banyak ulama di Jawa Timur, ternyata suka mengisi air jeding (kamar mandi) masjid dan jeding-jeding lain setiap malam tanpa diketahui siapapun; Kiai Mahalli yang tak diketahui makamnya, ternyata memiliki kamar luar biasa yang tak boleh dimasuki seorangpun; Kiai Abu Dzarrin yang menulis kitab Sorrof Sono, ternyata setelah wafat mengajar Syaikhona Cholil Bangkalan lewat mimpi.


Selanjutnya, Kiai Noerhasan bin Noerkhotim yang alim dan tawadu, ternyata disegani oleh gurunya, Sayid Abu Bakar Syatha; Kiai Bahar yang mendapat ilmu laduni (ilmu tanpa belajar), ternyata menjadi kiai sejak usia kanak-kanak; Kiai Lim yang ahli ibadah sejak kecil, ternyata mukasyafah dan sering menjawab lebih dahulu sebelum ditanya; Kiai Kholili yang gigih dalam dakwah, bisa bicara dengan orang sambil membaca shalawat dengan samar; Kiai Ghozi yang sejak muda dikatakan mendapat futuh (terbukanya hati) oleh KH Jazuli Ploso, ternyata tak gengsi berdagang dan menjadi sopir angkutan; dan Kiai Nawawi Thoyyib yang beristri cicit Syekh Nawawi al-Banteni, ternyata begitu tawadu pada Kiai Lim yang tak lain sepupunya sendiri.


Selain itu, dalam riwayat hidup mereka juga terdapat sejarah penyebaran agama dan ilmu agama di Indonesia, sejarah pengembangan pesantren di Jawa dan Madura, sejarah perjuangan NU serta lembaganya, dan perkembangan keagamaan serta pendidikan di Pasuruan dan Jawa Timur.


***



Biografi 9 kiai ini dikumpulkan dari halaman khusus Dzikra majalah IJTIHAD, terbitan OMIM (Organisasi Murid Intra Madrasah) MMU Aliyah PP Sidogiri. Yaitu IJTIHAD edisi 22 sampai 30, yang terbit dalam rentang waktu lima tahun, 1426-1430 H.


Apresiasi tinggi patut kita berikan kepada redaksi IJTIHAD yang mampu mengumpulkan sejarah Masyayikh dari hasil wawancara, peninggalan dokumentasi, dan sumber pustaka. Utamanya berkenaan dengan disusunnya sejarah Kiai Aminullah, Kiai Mahalli, Kiai Abu Dzarrin, Kiai Noerhasan, dan Kiai Bahar yang hidup ratusan tahun lalu. Dan disusunnya sejarah Kiai Lim ketika air mata karena ditinggalkan olehnya belum sepenuhnya kering…


Demikianlah adanya, sampai akhirnya kini dapat dibukukan seperti ini. Dan pada buku ini terdapat beberapa penyempurnaan isi dan tata bahasa, serta penambahan catatan kaki.


Sebagaimana lazimnya penulisan sejarah, tentu diperlukan penelitian dan penyempurnaan dari masa ke masa. Karena itu, diharapkan adanya tambahan informasi, kritik, dan saran untuk penyempurnaan penulisan sejarah Masyayikh Sidogiri.


Selamat membaca. Semoga kita mendapat manfaat dan berkah dari Masyayikh Sidogiri.




Sidogiri, 22 Dzulqa’dah 1430 H

09 November 2009 M



 Syamsu-l Arifyn Munawwir


 Sumber: "Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri jilid 2", terbitan Pustaka Sidogiri, Pasuruan.